Kumpulan komentar pribadi

April 2018

foto.kompas.com


Berdasarkan data Balai Pusat Statistik jumlah penduduk Indonesia tahun 2017 adalah 261,89 juta jiwa. Sebanyak 85 juta dari total penduduk adalah generasi milenial. Ini berarti sekitar 32,6% dari total penduduk Indonesia tahun 2017 adalah generasi milenials. Bukan jumlah yang sedikit yang bisa mempengaruhi banyak hal.

Termasuk didalamnya adalah laku tidaknya produk yang dijual oleh perusahaan, film yang diproduksi, jasa yang ditawarkan, sampai ke masalah politik dalam pemilu. Generasi yang kini berusia sekitar 15 hingga 34 tahun ini sebagian besar tentunya sudah memiliki hak pilih.

Oleh karena itu, Jokowi melakukan beberapa hal yang mengarah pada melenials. Menggunakan produk-produk yang dibuat dan juga digunakan oleh milenial. Menonton film yang ditonton milenials. Melakukan aktivitas bersosial media bahkan membuat vlog.

Terkini adalah menggunakan sepeda motor chopper hasil modif anak muda untuk memantau proyek. Yang kemudian ada peristiwa viral yaitu ketika jokowi didekati milenials muda berusia 19 tahun yang bertelanjang dada.

Sebagai kepala negara tentau Jokowi ingin mempromosikan dan memajukan generasi muda yang kreatif. Namun sebagai politikus tentu Jokowi tidak ingin suara milenials lepas dari genggaman. Apalagi setelah ada peristiwa "kartu kuning", sebuah warning bahwa ada sebagian milenials yang tidak mendukung Jokowi.

Memang sebaiknya Jokowi harus cepat mengambil sikap dengan menampilkan diri sosok yang "milenials banget".

Soal Jokowi menggunakan kaos #2019GantiPresiden, menurut saya ini juga langkah yang dilakukan Jokowi untuk mendekati milenials. Jokowi ingin menampilkan diri bahwa beliau tidak anti terhadap orang yang tidak pro kepadanya alias tidak otoriter.

Nampaknya Jokowi menyadari betul bahwa milenilas hidup bebas tidak ada tekanan dari pemerintah seperti generasi pendahulu. Milenials sangat membenci kesewanang-wenangan dan tekanan. Jika diperhatikan, bila ada tokoh yang terlihat otoriter pasti akan dicaci maki oleh milenials di sosial media mereka dengan gayanya masing-masing. Ada yang halus ada juga yang kasar.

Generasi milenial sendiri dibagi menjadi dua. Milenials tua atau Gen Y (diatas 21 tahun) dan milenials muda atau Gen Z (dibawah 21 tahun). Untuk generasi milenials tua banyak yang sudah berkeluarga dan memiliki penghasilan diatas Rp 10 juta sebulan.  Jurus-jurus lama untuk memasarkan produk dan jasa yang diterapkan kepada generasi pendahulunya (gen x dan baby boomers) tidak lagi mempan untuk digunakan.

Mengapa bisa demikian?

Generasi milenials tumbuh disaat teknologi informasi yang berkembang pesat. Arus informasi bisa mengalir berkali lipat lebih cepat dibandingkan dengan masa muda generasi pendahulu. Apapun bisa dicari tahu dengan cepat. Apa yang terjadi di satu tempat dapat dengan cepat menyebar ke seluruh pelosok negeri.

Mereka memiliki "values" tersendiri yang digunakan untuk menilai dan mengambil keputusan. "Values" tersebut adalah hasil kompilasi dari pencarian mereka di dunia maya dan juga dunia nyata.

Secara komposisi umumya lebih banyak referensi dunia maya. Beberapa dari sumber itu diantaranya adalah media sosial dan media online lainnya. Apapun kata orang-orang disekitarnya, tidak akan banyak mempengaruhi penilaian pribadi milenials.

Hal lain yang juga mempengaruhi adalah experience atau pengalaman. Apa yang mereka rasakan dan mereka alami adalah faktor lain yang melengkapi khasanah "values" mereka dalam menilai produk maupun jasa. Jadi dalam beriklan atau menawarkan produk dan jasa, ajaklah milenials untuk merasakan terlebih dahulu produk atau jasa anda.

Setelah mereka menyadari kelebihan produk anda, barulah anda bercerita tentang kelebihan produk dan jasa yang anda tawarkan. Jangan terbalik ya, iklan di TV gencar tapi kenyataan di lapangan tidak sesuai. Bisa-bisa hanya laris diawal saja, setelahnya produk dan jasa anda tidak lagi digunakan oleh milenials.

Efek Multiplikasi

Apapun yang baik dan buruk yang dirasakan milenials akan disebarkan lebih cepat dari "getok tular"nya generasi pendahulu. Misalnya ada sebuah film yang begitu mengena dihati, milenial akan menyebarkan pengalamannya itu dalam berbagai bentuk sesuai minat mereka. Ada yang membuat vlog meniru adegan film tersebut. Ada yang membuat komik plesetan atau membuat meme. Ada yang membuat artikel dan menulisnya di blog.

Sebenarnya dari sini kita bisa belajar bahwa dalam menjual yang dikejar pertama bukan menyiapkan buzzer, melainkan pengalaman yang unik dan baik dulu. Kalau anda perhatikan, ada film yang diviralkan oleh buzzer dengan sangat baik, namun tidak laris manis.

Ada film yang awalnya tidak diviralkan oleh buzzer, namun kemudian menjadi viral dan akhirnya buzzer pun membuatnya semakin viral. Ada kebanggaan dan kesenangan tersendiri ketika milenial menyebarkan sesuatu disosial media mereka. Semakin eksis, semakin populer, bisa berinteraksi dengan jejaring bahkan bisa menghasilkan uang.

Jangan pula memakai strategi menggunakan sales force yang "agak maksa" dalam menjual produk kepada milenials. Prestasi yang diraih tidak akan bertahan lama jika yang dihadapi adalah milenials. Ingat bahwa milenials hidup bebas tanpa tekanan dan sangat tidak suka untuk dipaksa-paksa. Apalagi "dirayu paksa" oleh tenaga penjual untuk memakai suatu produk. Bisa-bisa jatuh citra perusahaan gara-gara hal tesebut.

Oleh karena itu, perbaiki produk dan jasa anda. Berikan experience terbaik bagi pengguna produk dan jasa. Berikan ruang kepada mereka untuk berpartisipasi lebih dengan membuat mereka semakin eksis karena menyebarkan pengalaman positif menggunakan produk dan jasa anda. Niscaya anda akan berjaya dalam memasarkan produk dan jasa kepada milenials.


Semoga bermanfaat.




Saya kira predikat surganya usaha rintisan atau biasa disebut startUp sudah valid untuk disematkan pada negara kita. Hal tersebut juga diakui oleh pendiri Gojek, Nadiem Makarim dalam sebuah pernyataan dalam acara The Economist Indonesia Summit 2018 di Hotel Shangri La , Jakarta. (sumber)

Nadiem mengatakan bahwa Go-jek, perusahaan rintisan yang dia buat tidak akan mampu bertahan kalau tidak dibangun di Indonesia. Nadiem juga memprediksi, apabila Go-Jek didirikan dan beroperasi di Amerika Serikat, maka paling lama mereka hanya bisa bertahan selama enam bulan. Pada kenyataannya Go-Jek yang didirikan tahun 2010 itu sudah 8 tahun bertahan.

 Bahkan bisnisnya terus berkembang dan kini sudah memiliki 18 jenis layanan. Mulai dari jasa pengantaran, jasa pengiriman, belanja, hingga bersih-bersih rumah bahkan pijat pun ada.

Apakah bisnis go-jek berjalan mulus tanpa hambatan? Saya kira tidak demikian. Mengingat sempat terjadi gesekan-gesekan di lapangan yang disebabkan berbagai hal. Salah satu contohnya adalah masalah regulasi perizinan.

"Seperti dikabarkan sebelumnya, pada Kamis (17/12/2015) malam Kemenhub menerbitkan Surat Pemberitahuan Nomor UM.3012/1/21/Phb/2015 yang isinya melarang kendaraan bermotor roda dua milik pribadi dijadikan angkutan umum." (sumber)

Disinilah peran pemerintah dibawah kepemimpinan Bapak Jokowi untuk menengahi semua pihak. Di satu sisi masyarakat berkeberatan jika layanan ojek online dilarang karena dinilai sangat membantu.

Selain itu ada banyak orang yang menggantungkan hidupnya dari bermitra dengan perusahaan ojek online. Disisi yang lain, ada perusahaan yang lebih lama eksis mulai tergerus bisnisnya. Bahkan terancam merugi karena pengahasilan berkurang sedangkan biaya yang harus dikeluarkan untuk izin dan sewa terus meningkat. Belum lagi soal biaya operasional.

Apakah hanya berlaku untuk perusahaan rintisan digital?

Kita ambil contoh rintisan perusahaan kuliner yang didirikan oleh Rex Marindo dan kawan kawan. Perusahaan itu bernama Cita Rasa Prima Group. CRP Group adalah perusahaan rintisan yang menaungi beberapa merek usaha kuliner. Debut pertama CRP Group dimulai sejak tahun 2013.

Dengan modal Rp 100 juta, mereka nekat meninggalkan bisnis konsultan dan banting setir menjadi tukang nasi goreng. "Waktu itu pikiran kami sederhana. Makanan apa yang pasti orang Indonesia makan. Yang terlintas pertama kali ya nasi goreng," kata Rex.

Kini perusahaan ini sudah memiliki 115 gerai diseluruh Indonesia. Dan 70% dari gerai tersebut adalah Warunk Upnormal. Satu cabang Warung Upnormal biaya franchisenya bisa mencapai lebih dari Rp 4 miliar. Anda bisa bayangkan sendiri kira-kira berapa omset yang didapatkan oleh perusahaan yang belum ada 10 tahun berdiri.

Indonesia memang market yang menggiurkan dengan jumlah penduduk terbesar di Asia Tenggara, dan juga semakin menjamurnya smartphone dan koneksi internet di seluruh Indonesia. Hal ini menjadi daya tarik yang kuat untuk berinvestasi di Indonesia.

Namun sebagai rakyat Indonesia, kita tidak boleh lengah dalam persaingan pasar yang semakin terbuka. Jika tidak pandai bersaing, kita hanya akan menjadi konsumen dan bukan produsen yang menghasilkan keuntungan yang maksimal untuk negeri kita.

Kita juga harus menjaga iklim investasi ini tetap kondusif dengan menjaga persaudaraaan, solidaritas dan toleransi. Apabila negara kita banyak kerusuhan, keributan, perpecahan yang ada hanyalah kesengsaraan. Bangunan bangunan megah simbol ekonomi maju akan menjadi puing-puing. Serta kota-kota kita yang cantik akan menjadi kota mati.

Mari bersatu padu, bangun Indonesia demi masa depan kita dan anak cucu kita hingga kiamat nanti.

Belajar "Millennial Marketing" dari Jokowi

foto.kompas.com Berdasarkan data Balai Pusat Statistik jumlah penduduk Indonesia tahun 2017 adalah 261,89 juta jiwa. Sebanyak 85 ju...

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget